Senin, 01 Desember 2014

keperawatan medikal bedah bdh

ASKEP PENDERITA FRAKTUR 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (smeltzer S.C & Bare B.G,2001).Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. ( reeves C.J,Roux G & Lockhart R,2001 ).
Kejadian patah tulang atau fraktur dapat menimpa setiap orang kapan saja dan dimana saja. Fraktur yang terjadi dapat mengenai orang dewasa maupun anak-anak. Presentasi keseluruhan dari anak anak 0-16 tahun yang mengalami (sedikitnya 1) fraktur, lebih tinggi anak laki-laki (42%) dari pada anak perempuan (27%). Tetapi kejadian fraktur tiga tahun lebih awal terjadi pada anak perempuan dari pada anak laki-laki. Meningkatnya fraktur selama masa prapubertas terjadi karena ketidaksesuaian antara tinggi badan dan mineralisasi tulang. 77% kasus fraktur disebabkan karena trauma low-energy (terutama karena jatuh) yang lebih sering terjadi pada anak laki-laki usia sekolah dan remaja. (Jurnal Pattern of fractures across pediatric age groups: analysis of individual and lifestyle factors). Fraktur yang mengenai lengan bawah pada anak sekitar 82% pada daerah metafisis tulang radius distal,dan ulna distal sedangkan fraktur pada daerah diafisis yang terjadi sering sebagai faktur type green-stick. Daerah metafisis pada anak relatif masih lemah sehingga  fraktur banyak terjadi pada daerah ini, selebihnya dapat  mengenai suprakondiler humeri (transkondiler humeri) diafisis femur dan klavikula, sedangkan yang lainnya jarang. Fraktur pada anak mempunyai keistimewaan dibanding dengan dewasa, proses penyembuhannya dapat berlangsung lebih singkat dengan remodeling yang sangat baik, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan anatomi, biomekanik serta fisiologi tulang anak yang berbeda dengan  tulang orang  dewasa.  Selain  itu  proses penyembuhan ini juga dipengaruhi oleh faktor mekanis dan faktor biologis. Ada perbedaan yang mendasar antara fraktur pada anak dengan fraktur pada orang dewasa, perbedaan tersebut pada anatomi, biomekanik, dan fisiologi tulang. Pada anak-anak antara epifisis dan metafisis terdapat lempeng epifisis sebagai daerah pertumbuhan  kongenital. Lempeng epifisis ini akan menghilang pada dewasa, sehingga epifisis dan metafisis ini akan menyatu. Pada saat itulah pertumbuhan memanjang tulang akan berhenti. Tulang panjang terdiri atas epifisis, metafisis dan diafisis. Epifisis merupakan bagian paling atas dari tulang panjang, metafisis merupakan bagian yang lebih lebar dari ujung tulang panjang yang berdekatan dengan diskus epifisialis, sedangkandiafisis merupakan bagian tulang panjang yang di bentuk dari pusat osifikasi primer. Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum, yang mengandung  sel-sel  yang  dapat  berproliferasi  dan  berperan  dalam  proses pertumbuhan transversal tulang panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai arteria nutrisi. Lokasi dan keutuhan dari pembuluh darah inilah yang menentukan berhasil atau tidaknya proses penyembuhan suatu tulang yang patah. Pada anak,terdapat lempeng epifisis yang merupakan tulang rawan pertumbuhan. Periosteum sangat tebal dan kuat dimana pada proses bone helding akan menghasilkan kalus yang cepat dan lebih besar daripada orang dewasa.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1  Apakah yang dimaksud dengan fraktur?
1.2.2  Apa sajakah klasifikasi fraktur?
1.2.3 Apa sajakah faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur?
1.2.4 Tanda, gejala, dan manifestasi klinis apa sajakah yang biasanya muncul pada fraktur?
1.2.5 Bagaimanakah penatalaksanaan yang baik dalam mengatasi fraktur pada anak?
1.2.6 Bagaimanakah asuhan keperawatan yang tepat untuk menangani permasalahan tersebut?(pada kasus ini kelompok kami akan membahas lebih lanjut mengenai askep fraktur)
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengerti dan memahami mengenai definisi dari fraktur.
1.3.2 Mengetahui dan mengerti tentang berbagai macam klasifikasi fraktur.
1.3.3 Mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan fraktur.
1.3.4 Mengetahui tanda, gejala, dan manifestasi klinis yang biasanya muncul pada fraktur.
1.3.5 Mengerti mengenai bagaimanakah penatalaksanaan yang tepat yang harus dilakukan dalam menangani fraktur pada anak.
1.3.6 Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan yang tepat untuk menangani permasalahan fraktur pada anak.
1.4 Manfaat
1.4.1 Menambah pengetahuan mengenai apa yang dimaksud dengan fraktur.
1.4.2 Dapat mengetahui tentang berbagai macam faktor penyebab dan akibat apasajakah yang mungkin muncul sebagai dampak dari fraktur khususnya fraktur pada anak.
1.4.3 Dapat mengetahui mengenai penatalaksanaan yang tepat yang harus dilakukan dalam menangani permasalahan fraktur pada anak.
1.4.4 Mengetahui mengenai asuhan keperawatan yang tepat dalam menangani fraktur pada anak.


BAB II
KAJIAN TEORI
2.1     Definisi Fraktur 
           Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Smelter&Bare,2002).
2.2  Klasifikasi Fraktur
a.       Komplit - tidak komplit
-  Fraktur komplit : garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
-  Fraktur tidak komplit : garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:
1.      Hairline fracture
Tulang terpecah selurunya tetapi masih tetap ditempat,biasa terjadi pada tulang pipih
2.      Buckle fracture atau torus fracture
Terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya
3.      Greenstick fracture
Fraktur di mana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok)
b.      Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma
-   garis patah melintang 
-   garis patah oblique
-   garis patah spiral
-   fraktur kompresi
-   fraktur avulsi
c.       Jumlah garis patah
-   fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan
-   fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan. Bila dua garis patah disebut pula fraktur bifokal.
-   fraktur multipel : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya.
d.      Bergeser - tidak bergeser (displaced-undisplaced)
-   fraktur undisplaced (tidak bergeser) : garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser. Periosteumnya masih utuh.
-   Fraktur displaced (bergeser) : terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut dislokasi fragmen.
1.      dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping)
2.      dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut)
3.      dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi).
e.       Terbuka - tertutup
-   Fraktur tertutup : bila tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit.
-   Fraktur terbuka : bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit.
Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan berat ringannya patah tulang.
  1. Grade I = Luka biasanya kecil < 1 cm, luka tusuk yang bersih pada tempat tulang menonjol keluar. Terdapat sedikit kerusakan pada jaringan lunak, tanpa penghancuran dan fraktur tidak kominutif. 
  2. Grade II = Luka > 1 cm, tetapi tidak ada penutup kulit. Tidak banyak terdapat kerusakan jaringan lunak, dan tidak lebih dari kehancuran atau kominusi fraktur tingkat sedang. 
  3. Grade III = Terdapat kerusakan yang luas pada kulit, jaringan lunak dan struktur neurovaskuler, disertai banyak kontaminasi luka.                  III A     :   Tulang yang mengalami fraktur mungkin dapat ditutupi secara memadai oleh jaringan lunak.
    III B     :   Terdapat pelepasan periosteum dan fraktur kominutif yang berat.
    III C    :   Terdapat cedera arteri yang perlu diperbaiki, tidak peduli berapa banyak kerusakan jaringan lunak yang lain.
2.3 Etiologi
            Terjadinya fraktur akibat adanya trauma yang mengenai tulang yang kekuatannya melebihi kekuatan tulang.
             Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya fraktur :
  • Faktor ekstrinsik yaitu meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang, arah serta kekuatan tulang. 
  • Faktor intrinsik yaitu meliputi kapasitas tulang mengabsorpsi energi trauma, kelenturan, densitas serta kekuatan tulang.
       Fraktur dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : 
  • Trauma Langsung : Trauma langsung berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu.
  • Trauma tidak langsung : bilamana titik tumpuan benturan dengan terjadinya fraktur bergantian  (Jatuh dari ketinggian dengan berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang)
·           Proses penyakit (osteoporosis yang menyebabkan fraktur yang patologis)
2.4 Tanda dan gejala 
  1. Pasien  merasakan  tulangnya  terasa  patah  atau mendengar bunyi “krek” (krepitasi).
  2. Ekstremitas yang cedera lebih pendek dari yang sehat,atau mengalami angulasi abnormal.
  3. Pasien tidak mampu menggerakkan ekstremitas yang cedera.
  4. Posisi ekstremitas yang abnormal, memar, bengkak, perubahan bentuk.
  5.  Nyeri gerak aktif dan pasif 
  6. Pasien  merasakan  sensasi  seperti  jeruji  ketikamenggerakkan ekstremitas yang mengalami cedera (Krepitasi) 
  7. Perdarahan bisa ada atau tidak  
  8. Hilangnya denyut nadi atau rasa raba pada distal lokasi cedera 
  9. Kram otot di sekitar lokasi cedera 
  10. Jika mengalami keraguan apakah terjadi fraktur atau tidak, maka perlakukanlah pasien seperti orang yang mengalami fraktur.
2.5 Manifestasi klinik
Manifestasi kliniis fraktur antara lain adalah didapatkan riwayat trauma, hilangnya fungsi, tanda-tanda inflamasi yang berupa nyeri akut dan berat, pembengkakan lokal, merah akibat perubahan warna, dan panas pada daerah tulang yang patah. Selain itu ditandai juga deformitas, dapat berupa angulasi, rotasi, ataupemendekan, serta krepitasi. Apabila fraktur terjadi pada ekstremitas atau persendian, maka akan ditemui keterbatasan LGS (lingkup gerak sendi). Pseudoartrosis dan gerak abnormal.
Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapatpada setiap fraktur, shingga perlu dilakukan pemeriksaan penuunjang. Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis adalah pemeriksaan X-foto, yang harus dilakukan dengan proyeksi yaitu anterior-posterior dan lateral. Dengan pemeriksaan X-foto ini dapat dilihat adatidaknya patah tulang, luas, dan keadaan fragmen tulang. Pemeriksaan ini juga berguna untuk mengikuti proses penyembuhan tulang. Diagnosis fraktur sendiri bergantung pada gejala, tanda fisik dan pemeriksaan sinar-x pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut. Bila berdasarkan pengamatan Klinis diduga ada fraktur, maka perlakukanlah sebagaimana fraktur sampai terbukti lain..
2.6 Penatalaksanaan
2.6.1 Pemeriksaan fisik:
1.      Inspeksi (look)
Adanya deformitas (kelainan bentuk) seperti bengkak, pemendekan, rotasi, angulasi, fragmen tulang (pada fraktur terbuka).
2.      Palpasi (feel)
Adanya nyeri tekan (tenderness), krepitasi, pemeriksaan status neurologis dan vaskuler di bagian distal fraktur. Palpasi daerah ektremitas tempat fraktur tersebut, di bagian distal cedera meliputi pulsasi arteri, warna kulit, capillary refill test.
3.      Gerakan (moving)
Adanya keterbatasan gerak pada daerah fraktur.

2.6.2 Penatalaksanaan fraktur mengacu kepada empat tujuan utama yaitu:
1. Mengurangi rasa nyeri,
Trauma pada jaringan disekitar fraktur menimbulkan rasa nyeri yang  hebat bahkan sampai menimbulkan syok. Untuk mengurangi nyeri dapat diberi obat penghilang rasa nyeri, serta dengan teknik imobilisasi, yaitu pemasangan bidai / spalk, maupun memasang gips.
2. Mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur.
Seperti pemasangan traksi kontinyu, fiksasi eksternal, fiksasi internal, sedangkan bidai maupun gips hanya dapat digunakan untuk fiksasi yang bersifat sementara saja.
3. Membuat tulang kembali menyatu
Tulang yang fraktur akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan.
4. Mengembalikan fungsi seperti semula
Imobilisasi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan atrofi otot dan kekakuan pada sendi. Maka untuk mencegah hal tersebut diperlukan upaya mobilisasi.
2.6.3 Proses Penyembuhan Tulang :
Proses penyembuhan pada tulang terdiri atas lima fase, yaitu:
a.       Fase Hematoma
Apabila terjadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil yang melewati kanalikuli dalam sistem Haversian mengalami robekan pada daerah fraktur dan akan membentuk hematoma di antara kedua sisi fraktur.  Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum.  Periosteum akan terdorong dan dapat mengalami robekan akibat tekanan hematoma sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah ke dalam jaringan lunak.
Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah fraktur akan kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu daerah cincin avaskuler tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur segera setelah trauma.
b.      Radang dan proliferasi seluler
Dalam delapan jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi sel di bawah periosteum dan di dalam saluran medulla yang tertembus. Ujung fragmen dikelilingi oleh jaringan sel, yang menghubungkan tempat fraktur. Hematoma yang membeku perlahan-lahan diabsorpsi dan kapiler baru yang halus berkembang ke daerah itu.
c.       Fase pembentukan kalus
Sel yang berkembang biak memiliki potensi krondrogenik dan osteogenik. Apabila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan dalam beberapa keadaan juga kartilago.  Populasi sel sekarang juga mencakup osteoklas (mungkin dihasilkan pembuluh darah baru) yang mulai membersihkan tulang yang mati.  Massa sel yang tebal, dengan pulau-pulau tulang yang immatur dan kartilago, membentuk kalus atau bebat pada permukaan periosteal dan endosteal.  Sementara tulang fibrosa yang immature (atau anyaman tulang) menjadi lebih padat, gerakan pada tempat fraktur semakin berkurang dan pada empat minggu setelah cedera, fraktur menyatu.
d.      Fase konsolidasi
Bila aktivitas osteoklastik dan osteoblastik berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi tulang lamelar.  Sistem itu sekarang cukup kaku untuk memungkinkan osteoklas menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan dekat dibelakangnya osteoblas mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru.  Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang cukup kuat untuk membawa beban yang normal.
e.       Fase remodeling
Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat.  Selama beberapa bulan, atau bahkan beberapa tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorpsi dan pembentukan tulang yang terus menerus.lamela yang lebih tebal diletakkan pada tempat yang tekanannya tinggi, dinding-dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk.  Akhirnya, dan terutama pada anak-anak tulang akan memperoleh bentuk yang mirip bentuk normalnya.
Pada Jurnal Kadar Vitamn K Pada Penderita Fraktur Tertutup Baru dan Lama yang Dirawat Di Bangsal ORTOPEDI RSU DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG oleh Muzzakie disebutkan bahwa salah satu proses penyembuhan fraktur dipengaruhi oleh vitamin K. Vitamin K ini terkenal karena efeknya terhadap pembekuan darah, namun pada penelitian terakhir menunjukan vitamin K berperanan  penting dalam proses pembentukan, remodeling dan penyembuhan fraktur. Vitamin K berperanan dalam pembentukan osteocalcin yaitu protein unik dalam jumlah besar yang terdapat pada tulang. Osteocalcin merupakan matrik terjadinya kristalisasi kalsium. Struktur osteocalcin merupakan protein non kolagen yang mengandung asam gamma karboksi glutamat tersusun atas tiga residu asam glutamat yang mengalami karboksilasi akibat dari modifikasi post translasi tergantung vitamin K. Penelitian terhadap binatang percobaan menunjukan pemberian suplemen vitamin K mempercepat proses penyembuhan fraktur. Penelitian yang dilakukan Lucille Bitensky,et all,bahwa kadar vitamin K 1 dalam sirkulasi penderita fraktur lebih rendah daripada individu normal. Hasil ini mendukung teori bahwa vitamin K 1 berperanan sebagai hydrogen donor dalam reaksi biokimia yang mengkonversi glutamic acid residu (glu) menjadi gamma carboxy glutamic acid (gla). Dua kelompok residu ini dapat berikatan dengan kalsium.Pada penelitian muzakkie mengenai kadar vitamin K pada penderita fraktur tertutup baru dan lama diperoleh bahwa tidak ada perbedaan bermakna kadar vitamin K penderita fraktur tertutup baru dan lama.
2.6.4 Pemeriksaan Penunjang :
1.      Pemeriksaan radiologis (rontgen), pada daerah yang dicurigai fraktur, harus mengikuti aturan role of two, yang terdiri dari :
·        Mencakup dua gambaran yaitu anteroposterior (AP) dan lateral.
·        Memuat dua sendi antara fraktur yaitu bagian proximal dan distal.
·        Memuat dua extremitas (terutama pada anak-anak) baik yang cidera maupun yang tidak terkena cidera (untuk membandingkan dengan yang normal)
·        Dilakukan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan.
2.      Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Merupakan prosedur diagnosa yang menggunakan kombinasi dari magnet-magnet yang besar, frekuensi radio, dan komputer untuk menghasilkan gambar secara detail dari organ dan strukur tubuh. Test ini dilakukan untuk mengetahui hubungan abnormalitas dari medula spinal dan saraf.
3.      Computed Tomography Scan (Also called a CT or CAT scan.)
Prosedur diagnosa yang menggunakan kombinasi antar sinar X dan teknologi komputer untuk menghasilkan gambar yang melintang dan bersekat, keduanya mendatar dan tegak lurus dari tubuh. CT scan menunjukkan gambar yang detail dari bagian-bagian tubuh termasuk tulang, otot, lemak, dan organ. CT scans lebih detail dibandingkan sinar X
4.      Pemeriksaan laboratorium, meliputi:
·        Darah rutin,
·        Faktor pembekuan darah,
·        Golongan darah (terutama jika akan dilakukan tindakan operasi),
·        Urinalisa,
·        Kreatinin (trauma otot dapat meningkatkan beban kreatinin untuk kliren ginjal).
5.      Pemeriksaan arteriografi dilakukan jika dicurigai telah terjadi kerusakan vaskuler akibat fraktur tersebut.
2.7 Fraktur Pada Anak
Fraktur yang terjadi dapat mengenai orang dewasa maupun anak-anak, Fraktur yang mengenai lengan bawah pada anak sekitar 82% pada daerah metafisis tulang radius distal,dan ulna distal sedangkan fraktur pada daerah diafisis yang terjadi sering sebagai faktur type green-stick. Daerah metafisis pada anak relatif masih lemah sehingga fraktur banyak terjadi pada daerah ini, selebihnya dapat mengenai suprakondiler humeri (transkondiler humeri) diafisis femur dan klavikula, sedangkan yang lainnya jarang.
Fraktur pada anak mempunyai keistimewaan dibanding dengan dewasa, proses penyembuhannya dapat berlangsung lebih singkat dengan remodeling yang sangat baik,hal ini disebabkan karena adanya perbedaan anatomi, biomekanik serta fisiologi tulang anak yang berbeda dengan tulang orang dewasa. Selain itu proses penyembuhan ini juga dipengaruhi oleh faktor mekanis dan faktor biologis.
A. Anatomi dan Fisiologi 
Ada perbedaan yang mendasar antara fraktur pada anak dengan fraktur pada orang dewasa, perbedaan tersebut pada anatomi, biomekanik, dan fisiologi tulang. Pada anak-anak antara epifisis dan metafisis terdapat lempeng epifisis sebagai daerah pertumbuhan kongenital. Lempeng epifisis ini akan menghilang pada dewasa, sehingga epifisis dan metafisis ini akan menyatu pada saat itulah pertumbuhan memanjang tulang akan berhenti.
Tulang panjang terdiri dari :
  1. Epifisis : merupakan bagian paling atas dari tulang panjang 
  2. Metafisis : merupakan bagian yang lebih lebar dari ujung tulang panjang, yang berdekatan dengan diskus epifisialis  
  3. Diafisis : merupakan bagian tulang panjang yang di bentuk dari pusat osifikasi primerSeluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum, yang mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi dan berperan dalam proses pertumbuhan transversal tulang panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai arteria nutrisi. Lokasi dan keutuhan dari pembuluh darah inilah yang menentukan berhasil atau tidaknya proses penyembuhan suatu tulang yang patah.Pada anak, terdapat lempeng epifisis yang merupakan tulang rawan pertumbuhan. Periosteum sangat tebal dan kuat dimana pada proses bone helding akan menghasilkan kalus yang cepat dan lebih besar daripada orang dewasa.
Perbedaan di atas menjelaskan perbedaan biomekanik tulang anak-anak dibandingkan orang dewasa, yaitu :
  1. Biomekanik tulang :Tulang anak-anak sangat porous, korteks berlubang-lubang dan sangat mudah dipotong oleh karena kanalis Haversian menduduki sebagian besar tulang. Faktor ini menyebabkan tulang anak-anak dapat menerima toleransi yang besar terhadap deformasi tulang dibandingkan orang dewasa. Tulang orang dewasa sangat kompak dan mudah mengalami tegangan dan tekanan sehingga tidak dapat menahan kompresi. 
  2. Biomekanik lempeng pertumbuhan : Lempeng pertumbuhan merupakan tulang rawan yang melekat pada metafisis yang bagian luarnya diliputi oleh periosteum sedang bagian dalamnya oleh procesus mamilaris. Untuk memisahkan metafisis dan epifisis diperlukan kekuatan yang besar. Tulang rawan lempeng epifisis mempunyai konsistensi seperti karet yang besar. 
  3. Biomekanik periosteum : Periosteum pada anak-anak sangat kuat dan tebal dan tidak mudah mengalami robekan dibandingkan orang dewasa.
Pada anak-anak, pertumbuhan merupakan dasar terjadinya remodelling yang lebih besar dibandingkan pada orang dewasa, sehingga tulang pada anak-anak mempunyai perbedaan fisiologi, yaitu :
  • Pertumbuhan berlebihan (over growth) Pertumbuhan diafisis tulang panjang akan memberikan stimulasi pada pertumbuhan panjang, karena tulang rawan lempeng epifisis mengalami hiperemi pada waktu penyambungan. 
  • Deformitas yang progresif Kerusakan permanen pada lempeng epifisis akan terjadi pemendekan atau angulasi. 
  • Fraktur total Pada anak-anak fraktur total jarang bersifat komunitif karena tulangnya sangat fleksibel dibandingkan orang dewasa.


  


BAB III
ANALISIS KASUS
3.1Kasus Keperawatan
Pasien datang post jatuh waktu bermain bola di sekolah, posisi jatuh tangan ekstensi menahan beban tubuh. Waktu kejadian sadar, keluhan lengan kiri sakit saat digerakkan, bentuk lengan bengkok. Diagnosa Medis adalah Fraktur Supra Condiler sinistra dan dilakukan Pembedahan Orif Plate. Setelah dilakukan Pembedahan keadaan umum pasien adalah Pusing (-),Mual (-), Muntah (-), BAB (+), Flatus (+), Nyeri jika lengan kiri digerakkan (+), baal (-), Kesemutan (-)
3.2    Proses Keperawatan
1.         Pengkajian Keperawatan
a.    Identitas pasien
Nama                 : An. R
Usia                   : 9 tahun
Jenis Kelamin     : Laki – Laki
b.    Riwayat Penyakit Sekarang :
keluhan lengan kiri sakit saat digerakkan, bentuk lengan bengkok
c.    Riwayat Alergi obat : -
d.    Pemeriksaan
Pemeriksaan Lokalisasi     : Nyeri pada lengan kiri, deformitas
Pemeriksaan Penunjang    : elbow AP dan lateral : frkatur suprakondiler sinistra.
Diagnosis                          :Fraktur Supra Condiler sinistra
Planning                            : Pembedahan; Orif Plate
e.    Riwayat Post Op Orif Plate
                                   i.          Pemeriksaan Fisik
Inspeksi                                   : bengkak pada tangan kiri (+), Pucat (-)
Palpasi                                     : Akral distal hangat (+), Pulsasi (+), Rabaan (+)
Movement                               : Fleksi jari-jari (+), dorso fleksi pergengan tangan (+) tapi sedikit nyeri, palmar fleksi (+) sedikit nyeri,fleksi dan ekstensi siku (-) Karen sangat nyeri, tahanan otot (-)
Kekuatan Otot Lengan Kiri      :2
2.         Diagnosa Keperawatan
a.    Peripheral neurovascular dysfunction, risk for. (Risiko untuk disfungsi Peripheral neurovascular)
b.    Impaired Physical Mobility (Gangguan mobilitas Fisik).
c.    Risk for infection (Resiko Infeksi)
d.    Acut Pain (nyeri Akut)
3.         Perencanaan (Nursing Outcomes) dan Implementasi (Nursing Intervention)
a.    Risiko untuk disfungsi Peripheral neurovascular
Definisi: keadaan individu yang berisiko mengalami gangguan sirkulasi, sensasi, atau gerakan pada ekstremitas
Faktor yang berhubungan: Patah tulang, imobilisasi, obstruksi vaskuler, bedah ortopedi
Outcome:
-          Penyembuhan fraktur
-          Status neurologi
-          Keparahan resiko cidera
Intervention
-          Kardiak care
-          Monitor neurologi
-          Posisioning
-          Pengawasan daerah pembedahan
Aktivitas Keperawatan
-          Ajarkan pasien tentang perawatan pasca operasi
-          Ajarkan pasien tentang tanda dan gejala gangguan pasca operasi dan komplikasi
-          Ajarkan pasien tentang pentingnya pelatihan mobilisasi
b.    Impaired Physical Mobility (Gangguan Mobilitas Fisik)
Definisi: Keterbatasam mobilitas tubuh pada satu atau lebih ekstrimitas
Faktor yang berhubungan:
-          Penurunan kekuatan otot
-          Kontraktur
-          Penurunan Muskuluskeletal
Outcomes
-          Penampilan Body mekanik
-          Status fungsi sensory
-          Ambulasi
-          Penyebaran energi
Intervensi
-          Menejemen energi
-          Terapi aktivitas
-          Menejemen lingkungan.uab
Aktivitas Keperawatan
-          Kaji movilitas sendi dan kekuatan otot
-          Kaji kemampuan kognitif
-          Kaji kebutuhan pasien untuk mobilisasi
-          Ajarkan pasien untuk meningkatkan kekuatan ekstrimitas
c.    Risk for infection (Resiko Infeksi)
Definisi: keadaan peningkatan resiko terkena organisme patogen
Faktor resiko:
-          Penyakit kronis
-          Prosedur invasive
-          Pertahnan sekunder tidak adekuat
Outcomes
-          Status imun:keadekuatan almi yg didapat secara tepat ditujukan untuk menahan antigen antigen internal maupun external
-          Pengetahuan: pengendalian energy : tingkat pemahamn mengenai pencegahan dan pengendalian infeksi
-          Pengendalian resiko: tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman kesehatan actual,pribadi,serta dapat dimodifikasi
Intevention dan Aktivitas Keperawatan
-          Pengendalian infeksi: meminimalkan penularan agen infeksius:
± Ajarkan pada pengunjung untuk mencuci tangan sewaktu masuk dan meninggalkan ruangan pasien
± Ajarken pasien teknik mencici tangan yang benar
± Ajarkan pasien dan keluarganya tanda/gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya
± Tarapkan kewaspadaan universal
± Batasi jumlah pengunjung bila diperlukan
± Berikan terapi antibiotic bila diperlukan
-          Perlindungan terhadap infeksi: mencegah dan mendeteksi dini infeksi pada pasien yang beresiko:
± pantau tanda/gejala infeksi(misalnya suhu tubuh,denyut jantung, penampilan urine,keletihan).
± Kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi(misalnya malnutrisi)
-          Pantau hasil lab(misalnya albumin,protein serum)
d.    Acut Pain (nyeri Akut)
Definisi : Perasaan dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan yang timbul dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensial. atau gambaran adanya kerusakan. Hal ini dapat timbul secara tiba-tiba atau lambat, intensitasnya dari ringan atau berat. Dengan prediksi waktu kesembuhan kira-kira kurang dari 6 bulan.
Batasan karakteristik :
-          Laporan verbal dan nonverbal
-          Laporan pengamatan
-          Posisi pasien berhati-hati untuk menghindari nyeri
-          Respon otonomi (diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil).
-          Tingkah laku ekspresif (gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas panjang, berkeluh kesah)
Faktor yang Berhubungan
-          Beberapa tindakan bedah
-          Kecemasan atau stress
Outcomes
-          Level kenyamanan
-          Kontrol nyeri
-          Menejemen level stress
Intevention
-          Pemberian analgetika
-          Menejemen pengobatan
-          Menejemen lingkungan
.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Implikasi Keperawatan
     Perawat dapat memberikan informasi, pengertian dan pendidikan tentang fraktur, tindakan yang perlu dilakukan untuk menangani frakur.
     Perawat  memberikan pelayanan yang penuh  terhadap pasien yang mengalami fraktur.
     Perawat sebagai peneliti, hendaknya dapat meneliti lebih lanjut mengenai komplikasi dan kelainan yang mungkin terjadi pada fraktur sehingga dapat menentukan tindakan yang tepat bagi pasien.
4.2 Kesimpulan
Fraktur pada anak mempunyai keistimewaan dibanding dengan dewasa, proses penyembuhannya dapat berlangsung lebih singkat dengan remodeling yang sangat baik,hal ini disebabkan karena adanya perbedaan anatomi, biomekanik serta fisiologi tulang anak yang berbeda dengan tulang orang dewasa.. Pada anak-anak antara epifisis dan metafisis terdapat lempeng epifisis sebagai daerah pertumbuhan  kongenital.  Lempeng  epifisis  ini  akan  menghilang  pada  dewasa, sehingga epifisis dan metafisi ini akan menyatu.Pada anak,terdapat lempeng epifisis yang merupakan tulang rawan pertumbuhan. Periosteum sangat tebal dan kuat dimana pada proses bone helding akan menghasilkan kalus yang cepat dan lebih besar daripada orang dewasa.
Dari kasus anak R didapat diagnosa :
a.       Peripheral neurovascular dysfunction, risk for. (Risiko untuk disfungsi Peripheral neurovascular)
b.      Impaired Physical Mobility (Gangguan mobilitas Fisik).uab
c.       Risk for infection (Resiko Infeksi)
d.      Acut Pain (nyeri Akut)uab
4.3 Saran
·      Untuk keluarga :
-Sebaiknya mendampingi anak pada saat bermain supaya tidak mengalami
-Apabila anak mengalami fraktur segera berikan pengobatan yang tepat agar tidak mengganggu tahap tumbuh kembang yang selanjutnya.
·      Untuk Perawat :
-Memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada anak yang mengalami fraktur
-Mengajarkan penanganan fraktur apabila anak sudah keluar dari rumah sakit.
·          Untuk Mahasiswa:
-Mempelajari tentang anatomi tulang serta penanganan fraktur.
-Mengupdate pengetahuan yang baru dengan melakukan penelitian tentang fraktur yang terjadi pada anak.








DAFTAR PUSTAKA
A. V. Korompilias & M. G. Lykissas & G. I. Mitsionis & V. A. Kontogeorgakos & G. Manoudis & A. E. Beris. Treatment of Pink Pulseless Hand Following Supracondylar Fractures of the Humerus in Children. International Orthopaedics (SICOT) (2009) 33:237–241
Armis.1994. TRAUMA SISTEM MUSKULOSKELETAL. Yogyakarta : FK UGM
Bitensky,Lucille., et all. Circulating Vitamin K level in patients with fractures in the Journal Of Bone and JoindSurgery. British volume 7-B, 1988, p.663-p.664
Closkey JC & Bulechek. 2008. Nursing Intervention Classification. 4th ed. Mosby Year Book.
Giuliana Valerio, Francesca Gallè, Caterina Mancusi, Valeria Di Onofrio, Marianna Colapietro, Pasquale Guida,Giorgio Liguori. Pattern of fractures across pediatric age groups: analysis of individual and lifestyle factors. Valerio et al. BMC Public Health 2010, 10:656
Ianthe E.Jones,Sheila M.Williams,Ailsa Goulding.2003. Associations of Birth Weight and Length, Childhood Size, and Smoking with Bone Fractures during Growth: Evidence from a Birth Cohort Study.American Journal of Epidemiologi:Vol.159,No.4.
Johnson M, dkk. 2004. Nursing Outcome Classification (NOC). 3rd edition. Mosby. 
Kenneth J. Noonan, M.D.*&Jedediah W. Jones, M.D. Recurrent Supracondylar Humerus Fracture Following Prior Malunion.
Muzakkie. Kadar Vitamn K Pada Penderita Fraktur Tertutup Baru dan Lama yang Dirawat Di Bangsal ORTOPEDI RSU DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG. JKK ,Th 36, No 2,April 2004.
NANDA, 2001, Nursing Diagnosis: Definition & Classification 2001-2002, Philadelphia, North American Nursing Diagnosis Association
Onder Ersan & Emel Gonen & Ahmet Arik & Uygar Dasar & Yalim Ates. Treatment of Supracondylar Fractures of The Humerus in Children Through an Anterior Approach is a Safe and Effective Method .International Orthopaedics (SICOT) (2009) 33:1371–1375.
Smeltzer and Bare, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta
Wael A. El-Adl Æ Mohammed A. El-Said Æ, George W. Boghdady Æ Al-Sayed M. Ali. Results of treatment of displaced supracondylar humeral fractures in children by percutaneous lateral cross-wiring technique. Strat Traum Limb Recon (2008) 3:1–7
Wael A. El-Adl Æ Mohammed A. El-Said Æ,George W. Boghdady Æ Al-Sayed M. Ali. Operative Management of Type III Extension Supracondylar Fractures in Children International Orthopaedics (SICOT) (2009) 33:1089–1094