askep dermatitis (tugas uas)
ASKEP
DERMATITIS
1.
DEFINISI
Dermatitis adalah
peradangan kulit epidermis dan dermis sebagai respon terhadap pengaruh faktor
eksogen atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berubah eflo-resensi
polimorfik (eritema, edema,papul, vesikel, skuama, dan keluhan gatal) (Adhi
Juanda,2005).
Dermatitis adalah Eksim atau sering disebut eksema,
atau dermatitis adalah peradangan hebat yang menyebabkan pembentukan
lepuh atau gelembung kecil (vesikel) pada kulit hingga akhirnya pecah dan mengeluarkan
cairan. Istilah eksim juga digunakan untuk sekelompok kondisi yang
menyebabkan perubahan pola pada kulit dan menimbulkan perubahan spesifik di
bagian permukaan. Istilah ini diambil dari Bahasa
Yunani yang berarti 'mendidih atau
mengalir keluar (Mitchell dan Hepplewhite, 2005)
Dermatitis atau lebih dikenal sebagai eksim merupakan penyakit
kulit yang mengalami peradangan kerena bermacam sebab dan timbul dalam berbagai
jenis, terutama kulit yang kering, umumnya berupa pembengkakan, memerah, dan
gatal pada kulit (Widhya, 2011).
2.
KLASIFIKASI
Dermatitis
muncul dalam beberapa jenis, yang masing-masing memiliki indikasi dan gejala
berbeda:
2.1
Contact Dermatitis
atau Dermatitis kontak adalah dermatitis yang disebabkan oleh bahan/substansi
yang menempel pada kulit. (Adhi Djuanda,2005) Dermatitis yang
muncul dipicu alergen (penyebab alergi) tertentu seperti racun yang terdapat
pada tanaman merambat atau detergen. Indikasi dan gejala antara kulit memerah
dan gatal. Jika memburuk, penderita akan mengalami bentol-bentol yang meradang. Disebabkan
kontak langsung dengan salah satu penyebab iritasi pada kulit atau alergi.
Contohnya sabun cuci/detergen, sabun mandi atau pembersih lantai. Alergennya
bisa berupa karet, logam, perhiasan, parfum, kosmetik atau rumput.
2.2
Neurodermatitis
adalah Peradangan kulit kronis, gatal, sirkumstrip, ditandai dengan kulit tebal
dan garis kulit tampak lebih menonjol(likenifikasi) menyerupai kulit batang
kayu, akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena berbagai ransangan
pruritogenik. (Adhi Djuanda,2005). Timbul karena goresan pada kulit
secara berulang, bisa berwujud kecil, datar dan dapat berdiameter sekitar 2,5
sampai 25 cm. Penyakit ini muncul saat sejumlah pakaian ketat yang kita
kenakan menggores kulit sehingga iritasi. Iritasi ini memicu kita untuk menggaruk
bagian yang terasa gatal. Biasanya muncul pada pergelangan kaki, pergelangan
tangan, lengan dan bagian belakang dari leher.
2.3
Seborrheich Dermatitis
adalah Kulit terasa berminyak dan licin; melepuhnya sisi-sisi dari hidung,
antara kedua alis, belakang telinga serta dada bagian atas. Dermatitis ini
seringkali diakibatkan faktor keturunan, muncul saat kondisi mental dalam
keadaan stres atau orang yang menderita penyakit saraf seperti Parkinson.
2.4
Statis Dermatitis Merupakan
dermatitis sekunder akibat insufisiensi kronik vena(atau hipertensi vena)
tungkai bawah. (Adhi Djuanda,2005) Yang muncul dengan adanya
varises, menyebabkan pergelangan kaki dan tulang kering berubah warna menjadi
memerah atau coklat, menebal dan gatal. Dermatitis muncul ketika adanya akumulasi
cairan di bawah jaringan kulit. Varises dan kondisi kronis lain pada kaki juga
menjadi penyebab.
2.5
Atopic Dermatitis Merupakan keadaan
peradangan kulit kronis dan resitif, disertai gatal yang umumnya sering terjadi
selama masa bayi dan anak-anaka, sering berhubungan dengan peningkatan kadar
IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau penderita(D.A, rinitis
alergik, atau asma bronkial).kelainan kulit berupa papul gatal yang kemudian
mengalami ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya
dilipatan(fleksural). (Adhi Djuanda,2005). Dengan indikasi dan
gejala antara lain gatal-gatal, kulit menebal, dan pecah-pecah. Seringkali
muncul di lipatan siku atau belakang lutut. Dermatitis biasanya muncul saat
alergi dan seringkali muncul pada keluarga, yang salah satu anggota keluarga
memiliki asma. Biasanya dimulai sejak bayi dan mungkin bisa bertambah atau berkurang
tingkat keparahannya selama masa kecil dan dewasa.
3.
ETIOLOGI
Penyebab
dermatitis dapat berasal dari luar(eksogen), misalnya bahan kimia (contoh :
detergen,asam, basa, oli, semen), fisik (sinar dan suhu), mikroorganisme
(contohnya : bakteri, jamur) dapat pula dari dalam(endogen), misalnya
dermatitis atopik.(Adhi Djuanda,2005).
Sejumlah kondisi kesehatan, alergi,
faktor genetik, fisik, stres, dan iritasi dapat menjadi penyebab eksim.
Masing-masing jenis eksim, biasanya memiliki penyebab berbeda pula. Seringkali,
kulit yang pecah-pecah dan meradang yang disebabkan eksim menjadi infeksi. Jika
kulit tangan ada strip merah seperti goresan, kita mungkin mengalami selulit
infeksi bakteri yang terjadi di bawah jaringan kulit. Selulit muncul karena
peradangan pada kulit yang terlihat bentol-bentol, memerah, berisi cairan dan
terasa panas saat disentuh dan .Selulit muncul pada seseorang yang sistem
kekebalan tubuhnya tidak bagus. Segera periksa ke dokter jika kita mengalami
selulit dan eksim.
4.
PATOFISIOLOGI
Pada
dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang
disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan
merusak lapisan tanduk, dalam beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahan
iritan tersebut akan berdifusi melalui membran untuk merusak lisosom,
mitokondria dan komponen-komponen inti sel. Dengan rusaknya membran lipid
keratinosit maka fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan asam arakidonik
akan membebaskan prostaglandin dan leukotrin yang akan menyebabkan dilatasi
pembuluh darah dan transudasi dari faktor sirkulasi dari komplemen dan system
kinin. Juga akan menarik neutrofil dan limfosit serta mengaktifkan sel mast
yang akan membebaskan histamin, prostaglandin dan leukotrin. PAF akan
mengaktivasi platelets yang akan menyebabkan perubahan vaskuler. Diacil
gliserida akan merangsang ekspresi gen dan sintesis protein. Pada dermatitis
kontak iritan terjadi kerusakan keratisonit dan keluarnya mediator- mediator.
Sehingga perbedaan mekanismenya dengan dermatis kontak alergik sangat tipis
yaitu dermatitis kontak iritan tidak melalui fase sensitisasi.Ada dua jenis
bahan iritan yaitu : iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat akan menimbulkan
kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua orang, sedang iritan
lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak berulang-ulang.
Faktor kontribusi, misalnya kelembaban udara, tekanan, gesekan dan oklusi,
mempunyai andil pada terjadinya kerusakan tersebut.
Pada
dermatitis kontak alergi, ada dua fase terjadinya respon imun tipe IV yang
menyebabkan timbulnya lesi dermatitis ini yaitu :
a.
Fase Sensitisasi
Fase sensitisasi disebut juga fase
induksi atau fase aferen. Pada fase ini terjadi sensitisasi terhadap individu
yang semula belum peka, oleh bahan kontaktan yang disebut alergen kontak atau
pemeka. Terjadi bila hapten menempel pada kulit selama 18-24 jam kemudian
hapten diproses dengan jalan pinositosis atau endositosis oleh sel LE
(Langerhans Epidermal), untuk mengadakan ikatan kovalen dengan protein karier yang
berada di epidermis, menjadi komplek hapten protein. Protein ini terletak pada
membran sel Langerhans dan berhubungan dengan produk gen HLA-DR (Human
Leukocyte Antigen-DR). Pada sel penyaji antigen (antigen presenting cell).
Kemudian sel LE menuju duktus Limfatikus dan ke parakorteks Limfonodus regional
dan terjadilah proses penyajian antigen kepada molekul CD4+ (Cluster of
Diferantiation 4+) dan molekul CD3. CD4+berfungsi sebagai pengenal komplek
HLADR dari sel Langerhans, sedangkan molekul CD3 yang berkaitan dengan protein
heterodimerik Ti (CD3-Ti), merupakan pengenal antigen yang lebih spesifik,
misalnya untuk ion nikel saja atau ion kromium saja. Kedua reseptor antigen
tersebut terdapat pada permukaan sel T. Pada saat ini telah terjadi pengenalan antigen
(antigen recognition). Selanjutnya sel Langerhans dirangsang untuk mengeluarkan
IL-1 (interleukin-1) yang akan merangsang sel T untuk mengeluarkan IL-2.
Kemudian IL-2 akan mengakibatkan proliferasi sel T sehingga terbentuk primed me
mory T cells, yang akan bersirkulasi ke seluruh tubuh meninggalkan limfonodi
dan akan memasuki fase elisitasi bila kontak berikut dengan alergen yang sama.
Proses ini pada manusia berlangsung selama 14-21 hari, dan belum terdapat ruam
pada kulit. Pada saat ini individu tersebut telah tersensitisasi yang berarti
mempunyai resiko untuk mengalami dermatitis kontak alergik.
b.
Fase elisitasi
Fase elisitasi atau fase eferen
terjadi apabila timbul pajanan kedua dari antigen yang sama dan sel yang telah
tersensitisasi telah tersedia di dalam kompartemen dermis. Sel Langerhans akan
mensekresi IL-1 yang akan merangsang sel T untuk mensekresi Il-2. Selanjutnya
IL-2 akan merangsang INF (interferon) gamma. IL-1 dan INF gamma akan merangsang
keratinosit memproduksi ICAM-1 (intercellular adhesion molecule-1) yang
langsung beraksi dengan limfosit T dan lekosit, serta sekresi eikosanoid.
Eikosanoid akan mengaktifkan sel mast dan makrofag untuk melepaskan histamin
sehingga terjadi vasodilatasi dan permeabilitas yang meningkat. Akibatnya
timbul berbagai macam kelainan kulit seperti eritema, edema dan vesikula yang
akan tampak sebagai dermatitis.
Proses peredaan atau penyusutan
peradangan terjadi melalui beberapa mekanisme yaitu proses skuamasi, degradasi
antigen oleh enzim dan sel, kerusakan sel Langerhans dan sel keratinosit serta
pelepasan Prostaglandin E-1dan 2 (PGE-1,2) oleh sel makrofag akibat stimulasi
INF gamma. PGE-1,2 berfungsi menekan produksi IL-2R sel T serta mencegah kontak
sel T dengan keratisonit. Selain itu sel mast dan basofil juga ikut berperan
dengan memperlambat puncak degranulasi setelah 48 jam paparan antigen, diduga
histamin berefek merangsang molekul CD8 (+) yang bersifat sitotoksik. Dengan
beberapa mekanisme lain, seperti sel B dan sel T terhadap antigen spesifik, dan
akhirnya menekan atau meredakan peradangan.
PATHWAY
5.
MANIFESTASI
KLINIK
Subyektif
ada tanda–tanda radang akut terutama priritus ( sebagai pengganti dolor).
Selain itu terdapat pula kenaikan suhu (kalor), kemerahan (rubor), edema atau
pembengkakan dan gangguan fungsi kulit (function laisa).Obyektif, biasanya
batas kelainan tidak tgas an terdapt lesi polimorfi yang dapat timbul scara
serentak atau beturut-turut. Pada permulaan eritema dan edema.Edema sangat
jelas pada klit yang longgar misalya muka (terutama palpebra dan bibir) dan
genetelia eksterna .Infiltrasi biasanya terdiri atas papul.
Dermatitis
madidans (basah) bearti terdapat eksudasi.Disana-sini terdapat sumber
dermatitis, artinya terdapat Vesikel-veikel fungtiformis yang berkelompok yang
kemudian membesar. Kelainan tersebut dapat disertai bula atau pustule, jika
disertai infeksi.Dermatitis sika (kering) berarti tiak madidans bila gelembung-gelumbung
mongering maka akan terlihat erosi atau ekskoriasi dengan krusta. Hal ini
berarti dermatitis menjadi kering disebut ematiti sika.Pada stadium tersebut
terjadi deskuamasi, artinya timbul sisik. Bila proses menjadi kronis tapak
likenifikasi dan sebagai sekuele telihat hiperpigmentai tau hipopigmentasi.
6.
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
6.1
Laboratorium
a.
Darah : Hb, leukosit, hitung jenis,
trombosit, elektrolit, protein total, albumin, globulin
b.
Urin : pemerikasaan histopatologi
6.2
Penunjang (pemeriksaan Histopatologi)
Pemeriksaan ini tidak memberi
gambaran khas untuk diagnostik karena gambaran histopatologiknya dapat juga
terlihat pada dermatitis oleh sebab lain. Pada dermatitis akut perubahan pada
dermatitis berupa edema interseluler (spongiosis), terbentuknya vesikel atau
bula, dan pada dermis terdapat dilatasi vaskuler disertai edema dan infiltrasi
perivaskuler sel-sel mononuclear. Dermatitis sub akut menyerupai bentuk akut
dengan terdapatnya akantosis dan kadangkadang parakeratosis. Pada dermatitis kronik
akan terlihat akantosis, hiperkeratosis, parakeratosis, spongiosis ringan,
tidak tampak adanya vesikel dan pada dermis dijumpai infiltrasi perivaskuler,
pertambahan kapiler dan fibrosis. Gambaran tersebut merupakan dermatitis secara
umum dan sangat sukar untuk membedakan gambaran histopatologik antara
dermatitis kontak alergik dan dermatitis kontak iritan.
Pemeriksaan ultrastruktur
menunjukkan 2-3 jam setelah paparan antigen, seperti dinitroklorbenzen (DNCB)
topikal dan injeksi ferritin intrakutan, tampak sejumlah besar sel langerhans
di epidermis. Saat itu antigen terlihat di membran sel dan di organella sel
Langerhans. Limfosit mendekatinya dan sel Langerhans menunjukkan aktivitas
metabolik. Berikutnya sel langerhans yang membawa antigen akan tampak didermis
dan setelah 4-6 jam tampak rusak dan jumlahnya di epidermis berkurang. Pada
saat yang sama migrasinya ke kelenjar getah bening setempat meningkat. Namun
demikian penelitian terakhir mengenai gambaran histologi, imunositokimia dan
mikroskop elektron dari tahap seluler awal pada pasien yang diinduksi alergen
dan bahan iritan belum berhasil menunjukkan perbedaan dalam pola peradangannya.
7.
KOMPLIKASI
7.1
Gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit
7.2
Infeksi sekunder khususnya
oleh Stafilokokus aureus
7.3
hiperpigmentasi atau hipopigmentasi
post inflamasi
7.4
jaringan parut muncul pada paparan
bahan korosif atau ekskoriasi
8.
PENATALAKSANAAN
Pada
prinsipnya penatalaksanaan yang baik adalah mengidentifikasi penyebab dan
menyarankan pasien untuk menghindarinya, terapi individual yang sesuai dengan
tahap penyakitnya dan perlindungan pada kulit.
8.1 Pencegahan
Merupakan hal yang sangat penting
pada penatalaksanaan dermatitis kontak iritan dan kontak alergik. Di lingkungan
rumah, beberapa hal dapat dilaksanakan misalnya penggunaan sarung tangan karet
di ganti dengan sarung tangan plastik, menggunakan mesin cuci, sikat bergagang
panjang, penggunaan deterjen.
8.2 Pengobatan
a.
Pengobatan topical
Obat-obat topikal yang diberikan
sesuai dengan prinsip-prinsip umum pengobatan dermatitis yaitu bila basah
diberi terapi basah (kompres terbuka), bila kering berikan terapi kering. Makin
akut penyakit, makin rendah prosentase bahan aktif. Bila akut berikan kompres,
bila subakut diberi losio, pasta, krim atau linimentum (pasta pendingin ), bila
kronik berikan salep. Bila basah berikan kompres, bila kering superfisial
diberi bedak, bedak kocok, krim atau pasta, bila kering di dalam, diberi salep.
Medikamentosa topikal saja dapat diberikan pada kasus-kasus ringan.
Jenis-jenisnya adalah :
Ø Kortikosteroid
Kortikosteroid mempunyai peranan
penting dalam sistem imun. Pemberian topikal akan menghambat reaksi aferen dan
eferen dari dermatitis kontak alergik. Steroid menghambat aktivasi dan
proliferasi spesifik antigen. Ini mungkin disebabkan karena efek langsung pada
sel penyaji antigen dan sel T. Pemberian steroid topikal pada kulit menyebabkan
hilangnya molekul CD1 dan HLA-DR sel Langerhans, sehingga sel Langerhans
kehilangan fungsi penyaji antigennya. Juga menghalangi pelepasan IL-2 oleh sel
T, dengan demikian profilerasi sel T dihambat. Efek imunomodulator ini
meniadakan respon imun yang terjadi dalam proses dermatitis kontak dengan
demikian efek terapetik. Jenis yang dapat diberikan adalah hidrokortison 2,5 %,
halcinonid dan triamsinolon asetonid. Cara pemakaian topikal dengan menggosok
secara lembut. Untuk meningkatan penetrasi obat dan mempercepat penyembuhan,
dapat dilakukan secara tertutup dengan film plastik selama 6-10 jam setiap
hari. Perlu diperhatikan timbulnya efek samping berupa potensiasi, atrofi kulit
dan erupsi akneiformis.
Ø Radiasi ultraviolet
Sinar ultraviolet juga mempunyai
efek terapetik dalam dermatitis kontak melalui sistem imun. Paparan ultraviolet
di kulit mengakibatkan hilangnya fungsi sel Langerhans dan menginduksi
timbulnya sel panyaji antigen yang berasal dari sumsum tulang yang dapat
mengaktivasi sel T supresor. Paparan ultraviolet di kulit mengakibatkan
hilangnya molekul permukaan sel langehans (CDI dan HLA-DR), sehingga
menghilangkan fungsi penyaji antigennya. Kombinasi 8-methoxy-psoralen dan UVA
(PUVA) dapat menekan reaksi peradangan dan imunitis. Secara imunologis dan
histologis PUVA akan mengurangi ketebalan epidermis, menurunkan jumlah sel
Langerhans di epidermis, sel mast di dermis dan infiltrasi mononuklear. Fase
induksi dan elisitasi dapat diblok oleh UVB. Melalui mekanisme yang
diperantarai TNF maka jumlah HLA- DR + dari sel Langerhans akan sangat
berkurang jumlahnya dan sel Langerhans menjadi tolerogenik. UVB juga merangsang
ekspresi ICAM-1 pada keratinosit dan sel Langerhans.
Ø Siklosporin
Pemberian siklosporin A topikal
menghambat elisitasi dari hipersensitivitas kontak pada marmut percobaan, tapi
pada manusia hanya memberikan efek minimal, mungkin disebabkan oleh kurangnya
absorbsi atau inaktivasi dari obat di epidermis atau dermis.
Ø Antibiotika dan antimikotika
Superinfeksi dapat ditimbulkan oleh
S. aureus, S. beta dan alfa hemolitikus, E. koli, Proteus dan Kandida spp. Pada
keadaan superinfeksi tersebut dapat diberikan antibiotika (misalnya gentamisin)
dan antimikotika (misalnya clotrimazole) dalam bentuk topikal.
Ø Imunosupresif
Obat-obatan baru yang bersifat
imunosupresif adalah FK 506 (Tacrolimus) dan SDZ ASM 981. Tacrolimus bekerja
dengan menghambat proliferasi sel T melalui penurunan sekresi sitokin seperti
IL-2 dan IL-4 tanpa merubah responnya terhadap sitokin eksogen lain. Hal ini
akan mengurangi peradangan kulit dengan tidak menimbulkan atrofi kulit dan efek
samping sistemik. SDZ ASM 981 merupakan derivat askomisin makrolatum yang
berefek anti inflamasi yang tinggi. Pada konsentrasi 0,1% potensinya sebanding
dengan kortikosteroid klobetasol-17-propionat 0,05% dan pada konsentrasi 1%
sebanding dengan betametason 17-valerat 0,1%, namun tidak menimbulkan atrofi
kulit. Konsentrasi yang diajurkan adalah 1%. Efek anti peradangan tidak
mengganggu respon imun sistemik dan penggunaan secara topikal sama efektifnya
dengan pemakaian secara oral.
b.
Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik ditujukan untuk
mengontrol rasa gatal dan atau edema, juga pada kasus-kasus sedang dan berat pada
keadaan akut atau kronik. Jenis-jenisnya adalah :Antihistamin. Maksud pemberian
antihistamin adalah untuk memperoleh efek sedatifnya. Ada yang berpendapat pada
stadium permulaan tidak terdapat pelepasan histamin. Tapi ada juga yang
berpendapat dengan adanya reaksi antigen-antobodi terdapat pembebasan histamin,
serotonin, SRS-A, bradikinin dan asetilkolin.
Ø Kortikosteroid
Diberikan pada kasus yang sedang
atau berat, secara peroral, intramuskular atau intravena. Pilihan terbaik
adalah prednison dan prednisolon. Steroid lain lebih mahal dan memiliki
kekurangan karena berdaya kerja lama. Bila diberikan dalam waktu singkat maka
efek sampingnya akan minimal. Perlu perhatian khusus pada penderita ulkus
peptikum, diabetes dan hipertensi. Efek sampingnya terutama pertambahan berat
badan, gangguan gastrointestinal dan perubahan dari insomnia hingga depresi.
Kortikosteroid bekerja dengan menghambat proliferasi limfosit, mengurangi
molekul CD1 dan HLA- DR pada sel Langerhans, menghambat pelepasan IL-2 dari
limfosit T dan menghambat sekresi IL-1, TNF-a dan MCAF.
Ø Siklosporin
Mekanisme kerja siklosporin adalah
menghambat fungsi sel T penolong dan menghambat produksi sitokin terutama IL-2,
INF-r, IL-1 dan IL-8. Mengurangi aktivitas sel T, monosit, makrofag dan
keratinosit serta menghambat ekspresi ICAM1.
Ø Pentoksifilin
Bekerja dengan menghambat
pembentukan TNF-a, IL-2R dan ekspresi ICAM-1 pada keratinosit dan sel
Langerhans. Merupakan derivat teobromin yang memiliki efek menghambat
peradangan.
Ø FK 506 (Trakolimus)
Bekerja dengan menghambat respon
imunitas humoral dan selular. Menghambat sekresi IL-2R, INF-r, TNF-a, GM-CSF .
Mengurangi sintesis leukotrin pada sel mast serta pelepasan histamin dan
serotonin. Dapat juga diberikan secara topikal. Ca++ antagonis
Menghambat fungsi sel penyaji dari sel Langerhans. Jenisnya seperti nifedipin
dan amilorid.
Ø Derivat vitamin D3
Menghambat proliferasi sel T dan
produksi sitokin IL-1, IL-2, IL-6 dan INF-r yang merupakan mediator-mediator
poten dari peradangan. Contohnya adalah kalsitriol.
Ø SDZ ASM 981
Merupakan derivay askomisin dengan
aktifitas anti inflamasi yang tinggi. Dapat juga diberikan secara topical,
pemberian secara oral lebih baik daripada siklosporin
ASUHAN
KEPERAWATAN
A.
PENGKAJIAN
KEPERAWATAN
1.
Identitas Pasien
2.
Keluhan Utama.
Biasanya
pasien mengeluh gatal, rambut rontok.
3.
Riwayat Kesehatan.
a)
Riwayat penyakit sekarang
Tanyakan sejak kapan pasien
merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama dan tindakan apa saja
yang dilakukan pasien untuk menanggulanginya.
b)
Riwayat penyakit dahulu
Apakah pasien dulu pernah menderita
penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya.
c)
Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada keluarga yang pernah
menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya.
d)
Riwayat psikososial
Apakah pasien merasakan kecemasan
yang berlebihan. Apakah sedang mengalami stress yang berkepanjangan.
e)
Riwayat pemakaian obat
Apakah pasien pernah menggunakan
obat-obatan yang dipakai pada kulit, atau pernahkah pasien tidak tahan (alergi)
terhadap sesuatu obat
WOC
B.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1.
Kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan kekeringan pada kulit
2.
Resiko infeksi berhubungan dengan
penurunan imunitas
3.
Gangguan pola tidur berhubungan
dengan pruritus
4.
Gangguan citra tubuh berhubungan
dengan penampakan kulit yang tidak bagus.
5.
Kurang pengetahuan tentang program
terapi berhubungan dengan kurangnya informasi
C.
RENCANA
KEPERAWATAN
No
|
DIAGNOSA KEPERAWATAN
|
NOC
|
NIC
|
1.
|
Kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan kekeringan pada kulit
|
Setelah dilakukan asuhan keperawatan,
kulit klien dapat kembali normal dengan kriteria hasil:
1.
Kenyamanan
pada kulit meningkat
2.
Derajat
pengelupasan kulit berkurang
3.
Kemerahan
berkurang
4.
Lecet
karena garukan berkurang
5.
Penyembuhan
area kulit yang telah rusak
|
1.
Lakukan
inspeksi lesi setiap hari
2.
Pantau
adanya tanda-tanda infeksi
3.
Ubah
posisi pasien tiap 2-4 jam
4.
Bantu
mobilitas pasien sesuai kebutuhan
5.
Pergunakan
sarung tangan jika merawat lesi
6.
Jaga
agar alat tenun selau dalam keadaan bersih dan kering
7.
Libatkan
keluarga dalam memberikan bantuan pada pasien
8.
Gunakan
sabun yang mengandung pelembab atau sabun untuk kulit sensitive
9.
Oleskan/berikan
salep atau krim yang telah diresepkan 2 atau tiga kali per hari.
|
2.
|
Resiko infeksi berhubungan dengan
penurunan imunitas
|
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan diharapkan tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil:
1.
Hasil
pengukuran tanda vital dalam batas normal.
Ø
RR
:16-20 x/menit
Ø
N :
70-82 x/menit
Ø
T : 37,5
C
Ø
TD :
120/85 mmHg
2.
Tidak
ditemukan tanda tanda infeksi (kalor,dolor, rubor, tumor, infusiolesa)
3.
Hasil pemeriksaan
laborat dalam batas normal Leuksosit darah : 5000-10.000/mm3
|
1.
Lakukan
tekni aseptic dan antiseptic dalam melakukan tindakan pada pasien
2.
Ukur
tanda vital tiap 4-6 jam
3.
Observasi
adanya tanda-tanda infeksi
4.
Batasi
jumlah pengunjung
5.
Kolaborasi
dengan ahli gizi untuk pemberian diet TKTP
6.
Libatkan
peran serta keluarga dalam memberikan bantuan pada klien
7.
Kolaborasi
dengan dokter dalam terapi obat
|
3.
|
Gangguan pola tidur berhungan
dengan pruritus
|
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan diharapkan klien bisa istirahat tanpa danya pruritus dengan
kriteria hasil:
1.
Mencapai
tidur yang nyenyak
2.
Melaporkan
gatal mereda
3.
Mengenali
tindakan untuk meningkatkan tidur
4.
Mempertahankan
kondisi lingkungan yang tepat
|
1.
Menjaga
kulit agar selalu lembab
2.
Determinasi
efek-efek medikasi terhadap pola tidur
3.
Jelaskan
pentingnya tidur yang adekuat
4.
Fasilitasi
untuk mempertahankan aktifitas sebelum tidur
5.
Ciptakan
lingkungan yang nyaman
6.
Kolaborasi
dengan dokter dalam pemberian obat tidur.
|
4.
|
Gangguan citra tubuh berhubungan
dengan penampakan kulit yang tidak bagus.
|
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan diharapkan Pengembangan peningkatan penerimaan diri pada klien
tercapai dengan kriteria hasil:
1.
Mengembangkan
peningkatan kemauan untuk menerima keadaan diri.
2.
Mengikuti
dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan diri.
3.
Melaporkan
perasaan dalam pengendalian situasi. Menguatkan kembali dukungan positif dari
diri sendiri.
|
1.
Kaji
adanya gangguan citra diri (menghindari kontak mata,ucapan merendahkan diri
sendiri).
2.
Identifikasi
stadium psikososial terhadap perkembangan.
3.
Berikan
kesempatan pengungkapan perasaan.
4.
Nilai
rasa keprihatinan dan ketakutan klien, bantu klien yang cemas mengembangkan
kemampuan untuk menilai diri dan mengenali masalahnya.
5.
Dukung
upaya klien untuk memperbaiki citra diri , spt merias, merapikan.
6.
Mendorong
sosialisasi dengan orang lain.
|
5.
|
Kurang pengetahuan tentang program
terapi berhubungan dengan kurangnya informasi
|
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan diharapkan terapi dapat dipahami dan dijalankan dengan kriteria
hasil:
1.
Memiliki
pemahaman terhadap perawatan kulit.
2.
Mengikuti
terapi dan dapat menjelaskan alasan terapi.
3.
Melaksanakan
mandi, pembersihan dan balutan basah sesuai program
4.
Menggunakan
obat topikal dengan tepat.
5.
Memahami
pentingnya nutrisi untuk kesehatan kulit.
|
1.
Kaji
apakah klien memahami dan mengerti tentang penyakitnya.
2.
Jaga
agar klien mendapatkan informasi yang benar, memperbaiki kesalahan
konsepsi/informasi.
3.
Peragakan
penerapan terapi seperti, mandi dan penggunaan obat-obatan lainnya.
4.
Nasihati
klien agar selalu menjaga hygiene pribadi juga lingkungan.
|
DAFTAR
PUSTAKA
Djuanda S, Sularsito. (2005). SA.
Dermatitis In: Djuanda A, ed Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi III.
Jakarta: FK UI: 126-31.
Johnson, M., et all. 2002. Nursing
Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey: Upper
Saddle River
Mc Closkey,
C.J., et all. 2002. Nursing
Interventions Classification (NIC) Second Edition. New Jersey: Upper
Saddle River
NANDA,
2012, Diagnosis Keperawatan NANDA : Definisi dan Klasifikasi.
Price, A. Sylvia.2006 Patofisiologi
Konsep Klinis Proses-proses Penyakit edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Smeltzer, Suzanne C. (2002). Buku
ajar medikal bedah Brunner Suddarth/Brunner Suddarth’s Texbook of
Medical-surgical. Alih Bahasa:Agung Waluyo…..(et.al.). ed 8 Vol 3 Jakarta: EGC.
Widhya. (2011). Askep Dermatitis.
Diaskes pada tanggal 28 April 2012
